September 2014
M T W T F S S
« Aug    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Push 2 Check

Akhlak Seorang Pemimpin

Akhlak Seorang Pemimpin. Pemimpin dalam kontek keislaman disebut Imamah / imam atau ketua, dan didalam wadah organisasi imamah biasa diistilahkan dengan khalifah atau penguasa. Imam juga berarti pedoman, Al Quran nul karim adalah pedoman bagi umat manusia. Begitu juga baginda Rasulullah Saw disebut juga sebagai imamah, sebab Beliau adalah pemimpin para pemimpin yang segala sunah dan fatwanya harus dijalankan oleh seluruh umat Islam dan khususnya para pemimpin. Didalam Al Quran kata imam ini terdapat dalam surat Al Bagarah ayat 124. “ …… Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata (dan saya mohon juga ) dari keturunanku. Allah berfirman.” Janji-Ku (ini) tiak mengenai orang-orang yang zalim.”.

Kalau kita perhatikan dengan seksama sifat zalim ini memang belum begitu terlihat dari para calon pemimpin maupun yang sedang memimpin saat ini. Hal ini berkenaan langsung dengan calon pemimpin tersebut untuk merengrut simpatisan terbesar dari masyarakat dalam kampayenya masing-masing. Yang terjadi malah sebaliknya menebarkan pesona dan janji-janji ini dan itunya, bantu ini bantu itu, kunjunggi ini dan kunjunggi itu dsb. Namun apa yang terjadi setelah jabatan kepemimpinan sudah ditangan, janji hanya tinggal janji rakyat kembali menderita akibat kebijakan dan keputusannya yang kadang sedikitpn tidak berpihak pada rakyat jelata. Inilah salah satu bentuk kezaliman yang nyata adanya dizaman sekarang ini.

Padahal Islam sudah tegas mengajarkan untuk bisa mewujudkan masyarakat dan bangsa yang berprikemanusiaan bukan berprikebinatangan, dengan peradapan yang tinggi, sangat-sangat dibutuhkan para pemimpin dengan akhlak yang mulia. Khalifah Abu Bakar Ash Siddik adalah sosok seorang pemimpin yang seharusnya menjadi tauladan bagi para pemimpin khususnya dinegara kita yang nota bene penganut terbesar ajaran Islam. Ketika menyampaikan pidato pertamanya ditahun 11 H / 632 M setelah terpilih jadi pemimpin, langsung mengemukakan hal ikhwal yang mencerminkan bagaimana seharusnya akhlak seoran pemimpin itu.

Beliau (Abu Bakar) mengatakan dihadapan para rakyatnya. ” Wahai rakyatku kalian telah sepakat memilihku sebagai pemimpinmu. Aku ini bukanlah yang terbaik diantara kalian maka, apabila aku berlaku baik dalam menjalankan tugas-tugasku bantulah aku. Tetapi apabila aku bertindak salah maka, tegur dan betulkanlah aku. Siapa saja yang lemah diantaramu akan kuat bagiku sampai aku mampu mengembalika hak-haknya, Insya Allah. Setelah itu beliau meneruskan, siapa saja yang kuat diantaramu akan lemah berhadapan denganku sampai aku kembalikan hak-hak orang lain yang ada padanya, Insya Allah.

Selanjutnya Abu Bakar menjelaskan, taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila aku tidak taat lagi kepada Allah dan Rasul-Nya tidak ada kewajiban untuk taat kepadaku. Dari pidato Abu Bakar Ash Siddik yang singkat dan sarat makna diatas berisikan penekanan pada rakyatnya untuk selalu mengontrol dan mengawasi setiap gerak-gerik dalam tugasnya. Kalimat apabila aku berlaku baik dalam tuagasku bantulah aku, namun apabila aku salah maka betulkanlah. Menandakan suatu sikap yan benar-benar jujur yang jauh dari sifat kepura – puraan yang dimiliki khalifah pertama sesudah Rasulullah Saw wafat.

Alangkah mulianya kalau para pemimpin negeri ini memiliki jiwa kepemimpinan seperti yang dimiliki Abu Bakar Siddik diatas. Apakah pemimpin kita selama ini sudah jujur, adil dan bijaksana seperti yang diagendakan dalam setiap kampaye-kampayenya dulu ?. Ternyata belum, hal ini terbukti dengan masih banyaknya para pejabat kita yang suka menghambur-hamburkan uang rakyat dan hidup dalam kemewahan, janji-janji dalam kampaye hanya tinggal janji, penganguran kian hari kian menumpuk, gepeng dengan tindakan kriminalnya semakin banyak dipersimpangan jalan kota negeri ini, tingkat kejahatan yang dilakukan kalangan awam sampai kalangan intelektual (kerah putih) semakin tak terbendung. Sementara para pemimpin semakin disibukan didalam usaha mendapatkan dan mempertahankan kursi kekuasaanya.

Inilah realita hari ini didalam negara yang pemimpin dan rakyatnya rata-rata beragama Islam, namun tidak mampu merealisasikan ajaran Islam itu sendiri. Padahal secara gamlang sudah dijelaskan bahwa Islam ini dihadirkan Allah kepermukaan bumi ini adalah untuk membawa rahmat bagi seluruh alam dan isinya (Rahmatan lil allamin). Untuk dapat merasakan sedikit saja akan rahmat Allah yang sangat besar ini pemimpin yang adil, jujur dan bijaksana sangat-sangat menentukan sekali. Ketentraman dan kebaikan itu hanya ada dimulut dan tindakan para pemimpin yang berani, jujur serta selalu berlaku adil seperti sosok Abu Bakar. Dalam kontek ini pemimpin yang zalim, arogan, otoriter didalam kebusukan berpolitik tidak akan mendapat tempat dibumi Allah ini ( Qs Al Baqarah – 124 ).

Sadarilah wahai para pemimpin dan calon pemimpin negeri ini, karena suatu saat kelak Allah kembali mempertanyakan secara mendetail terhadap kepemimpinanmu, maka bersihkanlah dulu dirimu dari hal-hal yang akan merusak tatanan kehidupan yang sudah ada. Bertanyalah pada dirimu apakah saya sudah pantas menjadi seorang pemimpin atau hanya sekedar mencari popularitas, pangkat dan kedudukan semata. Ingatlah akan pertanggungjawabannya nanti akan lebih sulit dan menyakitkan dari yang kita sangka. Jelas jadi pemimpin itu suatu kesulitan besar kalau tidak mengetahui dan memahami akan trik-triknya, dan akan jadi malapetaka besar jikalau menyimpang dan menyeleweng dari ketentuan yang telah ada.

Jadilah pemimpin sejati yang disegani dan bukan ditakuti rakyatnya. Islam memandang pemimpin sejati itu adalah pemimpin yang selalu mengarahkan bawahan dan rakyatnya untuk selalu mentaati Allah dan Rasul-Nya, oleh karena itu kalau sudah menjadi pemimpin tunjukanlah dulu ketaatan yang murni dan jauh dari sifat kepura-puraan. Sebelum jadi pemimpin rajin turun kebawah, sidak ini sidak itu, shalat jumat datang duluan, gambar dengan slogan dan janji-janjinya bertebaran dimana-mana dsb. Namun setelah menduduki kursi kepemimpinan semua pada bolong bahkan molor dan  janji akan kembali menjadi janji  yang jauh dari kenyataanya.

Dari 44 parpol yang akan berlaga dalam pesta demokrasi  2009 nantinya mulai dari tingkat I sampai ke RT dan RW, saat itulah kesempatan kita nantinya untuk memilih pemimpin yang benar-benar mewakili guna memberitakan keadaan negeri  ini  yang sesungguhnya. Negeri ini sedang sakit kejujuran dan komitmen dalam menjalankan janji-janji itulah obat dan suplemennya. Kalau ini sampai diingkari maka kehancuran demi kehancuran akan terus merongrong kita dan bangsa ini.

Para pemimpin yang kita butuhkan saat ini adalah pemimpin yang rendah hati, bersedia menjalin kerja sama dalam hal kebaikan dengan bawahan dan rakyatnya, selalu membuka diri untuk siap dikritik dan haus akan saran-saran positif, selalu berkata jujur dan komitmen didalam memenuhi hak-hak rakyat, dan berani mengatakan dan menindak siapa saja dari aparatnya yang menyeleweng.

Jadi sangatlah mendesak bagi kita untuk segera memiliki pemimpin seperti sosok Abu bakar Ash Siddik yang benar-benar mendahulukan kepentingan rakyat, berakhlak mulia, jujur dan bijaksana. Kekacauan dan krisis yang terjadi disegala sisi kehidupan yang datang bertubi-tubi ini disebabkan oleh para pemimpin dalam tingkat negara maupun dunia tidak memilik akhlak pemimpin yang ideal untuk memimpin rakyatnya yang multi etnis ini. Karna itu jangan pernah berniat memilih pemimpin yang jauh dari akhlak mulia. Setidaknya jauh dari prilaku para pemimpin zalim yang banyak diceritakan Al Quran. Allah Hu A’llam.

Penulis : Pemerhati Masalah Sosial Keagamaan

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>