July 2014
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Push 2 Check

Syarat Diterimanya Amal

Syarat Diterimanya Amal. “Al Quran Nul Karim memberi penegasan bahwa umat manusia diciptakan bukan hanya sekedar untuk menjalani kehidupan ini saja dalam bentuk lahir, dewasa, tua lalu mati. Melainkan adalah untuk bisa mengatur segala sisi kehidupan ini, mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat sampai bangsa dan negaranya, agar terhindar dari segala yang dilarang oleh Allah Swt. Ketika umat manusia di ciptakan, mereka telah memiliki tugas yang biasa disebut Al Quran sebagai khalifah dipermukaan bumi ini. Merekapun oleh Allah telah dilengkapa dengan segala kelebihan, baik kelebihan khusus maupun kelebihan yang sifatnya umum/merata.

Walaupun dibalik segala kelebihan yang dimiliki tersebut tetap tersimpan bentuk kekurangan-kekurangan sebagai hikmah bahwa tidak ada yang sempurna dimuka bumi ini kecuali hanya Allah semata.. Segala bentuk kelebihan yang telah kita terima dari-Nya itu, tidak ada hal yang pantas menjadi ungkapan rasa syukur, selain sepenuh dan segenap jiwa raga menghamba melalui amal ibadah yang murni. Hal ini dikarenakan Allahlah yang maha memegang dan mengendalikan kehidupan makhluknya mulai dari dalam kandungan sang ibu sampai malaikat maut diperintah untuk menjalankan tugasnya (mencabut nyawa). Maka benarlah yang dikatakan AlQuran bahwa keikhlasan dalam beramal ibadah merupakan kado istimewa dari manusia untuk sang khaliknya.

Doktrin Islam khususnya tentang keikhlasan dalam beribadah merupakan penegasan atas kemurnian dan atas keesaaan Allah Swt, yang diiringi dengan mengkomplenkan diri dari segala bentuk kemusyrikan (syirik) dalam bentuk sekecil apapun. Dalam hal ini sikap penegasan atas kemurnian dan atas keesaan Allah Swt harus dibangun dari seluruh sikap, baik dari segi keyakinan hati, ucapan juga implementasi dari setiap amal ibadah tsb. Hal ini sangat menjadi penting, karena keikhlasan dalam beribadah itu memiliki makna tauhid yaitu pengesaan Allah dalam berbagai aspek kehidupan yang dilandasi dengan niat yang ikhlas. Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw Innamal A’mallu Bil Niat” Sesungguhnya segala amal itu hendaklah disertai dengan niat (Bukhari&Muslim). Menurut beliau Saw sesungguhnya setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh seluruh anggota tubuh mulut, tangan, kaki dsb akan melahirkan hasil berdasarkan niatnya. Jelasnya Niat yang ikhlas merupakan syarat mutlak diterimanya amal ibadah kita. Berdasarkan keterangan Rasulullah diatas makajelas niat yang tidak ikhlas akan menjadi sia-sia belaka ibarat debu yang beterbangan ditiup kencangnya angin.

Allah Swt, menjanjikan sorga pada manusia khususnya manusia Islam yang dengan jujur ikhlas dalam beamal ibadah penuh ketaatan, janji Allah tersebut termaktup dalam Qs An Nisa-124-125. “Barang siapa yang mengerjakan amal-amal shaleh baik laki-laki atau wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam sorga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya pada Allah sedang iapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ?. Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangannya” Dua ayat diatas dikatakan Allah, bahwa amalan yang ikhlaslah yang akan dibalasi sorga. Lalu bagaimana dengan amalan yang dikerjakan dengan asal-asalan dan terkesan dipaksakan? Dalam hal ini Rasulullah Saw juga telah mengabarkan bahwa Allah tidak akan menerima amalan melainkan amalan yang ikhlas dan untuk mencari keridhaan Allah semata. Maka sudah menjadi suatu keharusan setiap pribadi muslim mempertanyakannya apakah amal ibadah maghdah maupun ghairu mahdah yang dikerjakansudah memenuhi standar keikhlasan atau belum?, dan apakah ibadah yang dikerjakan selama ini masih saja ditunggangi sifat ria agar mendapat pujian dari atasan, ibu, bapak pacar, teman, mertua dsb? Tiada lain kejujuran hatilah yang akan dituntut.

Sikap sungguh-sungguh dan keaktifan didukung komitmen diri yang kuat terhadap syariat Islam dan hanya mengharapkan keridhaan Allah semata, maka nilai keikhlasan itu insya Allah akan lahir dengan sendirinya. Dan kalau bisa kita pertahankan sampai akhir hayat jelas kebahagiaan negeri akherat yang didambakan setiap muslim/muslimah sudah bisa kita dapatkan, hidup beramal dan mati dalam keadaan iman (khusnul khatimah). Hanya satu kata dalam beribadah yang harus kita raih bersama yaitu ikhlas, karena keikhlasan dalam beribadah ini akan dapat membentengi diri umat Islam khususnya dari godaan, rayuan maupun bujukan syaitan laknatullah, yang merupakan musuh gaib yang nyata adanya. Hal ini sudah diabadikan Allah dalam Qs Al Hijr 39-40 “Iblis berkata, yaa tuhanku oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan maksiat dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba engkau yang Mukhlis diantara mereka.” Sedangkan Al Quran menerangkan yang dimaksud dengan Mukhlis itu adalah orang yang telah diberi taufik untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah. Memang, kalau sudah Allah yang beiiradat tak seorangpun yang sanggup untuk menghalangginya. Selain itu keikhlasan dalam beribadah akan sanggup mengatasi setiap kesulitan yang dirasakan umat islam. Qs Yunus ayat 105 memperjelas akan hal ini. Selain itu beramal secara ikhlas ketenangan dan ketentraman jiwa, pikiran yang saat ini sudah mulai menjadi barang langka dikalangan manusia akan mudah kita raih asalkan jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah.

“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah tuhan semesta alam, tiada sekutu baginya dan yang demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah umat yang pertama menyerahkan diri kepada Allah.” ( Qs Al An’am 162-163). Ayat diatas terdapat pada sebahagian doa Iftitah yang dibaca pada rakaat pertama dalam shalat. Ucapan itu berintikan penyerahan diri lahir bathin dengan penuh kerendahan serta kepasrahan dalam upaya merangkul keridhaan Allah tampa pamrih. Selain itu setiap pribadi muslimpun harus menyadari dan bersumpah untuk tidak menyekutukan Allah dengan mengutamakan Islam sebagai tatanan kehidupanya guna meraih keselamatan dunia akherat. Hal diatas akan mudah kita dapatkan kalau setiap diri senantiasa melaksanakan perintah Allah dan dengan penuh kesadaran menghentikan segala perihal yang dilarang-Nya. Pada intinya memurnikan ketaatan hanya kepada Allah semata dengan mematuhi ajaran yang disuguhkan Islam pada kita, mejauhi perbuatan syirik dsb. Jelas kesesatan-kesesatan yang terjadi dalam beribadah dengan semau gue/sakahandak hati dsb itu menunjukan para pelakunya belum sepenuh hati ikhlas didalam beramal ibadah bahkan sering menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya ( Al Quran&Hadis Saw).

Dengan demikian via keikhlasan dalam beribadah yang merupakan syarat mutlak diterimanya amalan seseorang ini bertujuan agar manusia senantiasa diproses dan dilatih setiap saat oleh Allah, agar selalu berdzikrullah padanya serta selalu merealisasikan ajaran yang dikandungnya dalam kehidupan ini. Maka berbanggalahsebagai umat Islam karena Allah langsung yang melatih kita melalui amalan yang ikhlas selain bentuk latihan di bulan ramadhan. Dan sangat perlu sekali kita ketahui akan sia-sialah setiap amalan dan perbuatan kita kalau masih disusupi, ditunggangi, diselimuti oleh berbagai kebohongan yang pada dasaranya adalah membohongi diri sendiri. Allah Hu A’llam.

Terbit Pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 08 Desember 2006 : Penulis : Pengamat Sosial Keagamaan Tinggal di Padang

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>